Sang Kambing Vs Keledai

October 21st, 2008

Suatu pagi yang cerah, Sang kambing berangkat kantor dengan setengah ogah-ogahan.. Tahu bahwa hari ini kantor akan diperiksa habis-habisan oleh sebentuk Keledai dari seberang lautan. Walau udah diajak kembaran pakai batik, sang Kambing memilih pakai baju biasa, bercorak sih, tapi nggak batik banget gitu. Bukannya sang Kambing nggak punya batik, punya yang lucu dan seksi abis malah.., tapi sang Kambing nggak suka aja bela-belain cantik demi Keledai aneh yang udah bikin suasana kantor jadi kacau balau selama berminggu-minggu ini.

Bayangkan saja, demi menyambut tuntutan si Keledai, kantor berdandan habis-habisan. Mulai dari yang wajar seperti CCTV, terus Fingerprint ID (yang mewajibkan seluruh ruang depan direnovasi), lalu ID card (yang ini sang Kambing lumayan suka, soalnya sempat jadi fotografer dadakan dan bisa main-mainin tripod barunya bos), belanja lemari baru, buku-buku baru, mindahin ini itu (termasuk mindahin ruang meeting!), sampai yang agak “aneh” seperti mendadak mengakuisisi warehouse, supir, dan truk, bahkan satpam yang jelas-jelas milik perusahaan berbeda..

Repot deh kayak mau mantu… Belum termasuk kwajiban untuk setting double password dan screensaver aneh yang wajib muncul tiap 2 menit kompie nggak disentuh, mewajibkan re-entering password yang terbukti sangat sangat merepotkan (sang Kambing nekat ngeganti jadi 20 menit, dan berencana menonaktifkan screensaver segera setelah Keledainya cabut)

Hari pertama dijalani dengan tambahan bersih-bersih, karena secara ajaib ternyata si Keledai merubah jadwal kunjungan. Alhasil Satpam dadakan yang sudah mejeng di depan kantor jadi tak berguna dan memilih pulang ke perusahaan aslinya dulu. Tinggalah sang Kambing ketawa-ketiwi dengan sobat Wereng dan Luwak (sobat Codot nggak sempat ketawa ketiwi, sibuk angkat-junjung barang yang seakan tak ada habisnya). Diakhiri dengan peringatan penting soal seragam hari kedua yang nggak boleh salah warna, harus super rapi lengkap dengan sepatu dan ID card tergantung sejak dari rumah.

Menanggapi ini, hari kedua Sang Kambing menambahkan syal warna-warni cerah melingkari leher. Dengan alasan mencegah radang tenggorokan tambah parah (yang sebetulnya memang sering terjadi), sang Kambing jadi tetap bisa tampil beda. Hehehe..

Dari lantai satu sampai tiga, semua sibuk latihan sandiwara sampai saat yang ditunggu tiba, Keledainya datang..

Dan pulang setelah sepuluh menit yang tak berarti di lantai satu…

Rupanya Jadwal pesawatnya diajukan..

Dasar Jack-A**!!

Dan berakhirlah hari ini dengan tawa berderai. Sebagian besar menertawakan kejadian lucu dimana inspeksi tak sedetil yang dibayangkan, sebagian kecil menertawakan diri sendiri karena ironisasi penjajahan modern. Kok ya mau-maunya ya kita dikerjai sedemikian rupa oleh mereka ? Bayangkan berapa banyak waktu, biaya, dan tenaga yang kita habiskan, hanya untuk sepuluh menit yang nggak berarti. Kalau boleh bilang rugi, bodoh, dan penakut, mestinya sang Kambing menjadi pintar dan memilih diam untuk kemudian berbagi dengan yang lebih bisa diajak berbagi. Pulang untuk tidur diatas bantal empuk yang sarungnya didesain persis dengan bendera negara si Keledai yang juga sudah pulang…

Hey Jack-A**, I slept over your beloved flag. Well I thought it’s OK as you have never respect these flags the way we respect ours.




2 Responses to “Sang Kambing Vs Keledai”

  1.   Babe bayek on October 22, 2008 6:36 am

    hahahahahahahaha…………..
    keledainya takut kale…..kalian pasang tampang perang smua sih…..

  2.   createmo on November 5, 2008 6:16 am

    Thank you for your website :-) I made on photoshop backgrounds for myspace or youtube and ect..
    my backgrounds: http://tinyurl.com/6exhae
    have a great day and thank you again!

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind