Perfect song for last night
After last night, i wonder if Vanessa Carlton have met this duckling boy when she decided to wrote this song….
——————————————————–
Just a day, Just an ordinary day, Just trying to get by..
Just a boy, Just an ordinary boy, But he was looking to the sky..
And as he asked if I would come along, I started to realize
That everyday he finds just what he’s looking for,
Like a shooting star, he shines..
He said take my hand, Live while you can
Don’t you see your dreams lie right in the palm of your hand
And as he spoke, he spoke ordinary words
Although they did not feel, For I felt what I had not felt before, And you’d swear those words could heal
And as I looked up into those eyes, His vision borrows mine..
And I know he’s no stranger, For I feel I’ve held him for all of time
And he said take my hand, Live while you can
Don’t you see your dreams lie right in the palm of your hand
In the palm of your hand
Please come with me, See what I see
Touch the stars for time will not flee. Time will not flee. Can you see?
Just a dream, just an ordinary dream… As I wake in bed
And the boy, that ordinary boy
Or was it all in my head?
Did he asked if I would come along? It all seemed so real.
But as I looked to the door, I saw that boy standing there with a deal.
And he said take my hand, Live while you can,
Don’t you see all your dreams lie right in the palm of your hand
Just a day, just an ordinary day, Just trying to get by.
Just a boy, Just an ordinary boy.
But he was looking to the sky…..
Uncategorized | Comment (0)Sang Kambing Jatuh Cinta?
Sang Kambing nggak ngerti,
akhir-akhir ini hatinya lebih mendominasi dari pada otaknya.
Jadi inget seorang teman yang pernah komentar, bahwa sang Kambing termasuk salah satu betina paling rasional yang pernah dikenalnya selama ini. Well sepertinya hal itu tidak berlaku lagi.
Tapi sang Kambing sukaa..
Dan kali ini, sang Kambing nggak mau repot cerita ke sobat Wereng, Luwak, apalagi Codot yang suka ember dengan gosip-gosip tak bertanggung jawab… Malesss…
Sang Kambing pengen menyimpan perasaan ini sendiri..
^_^
Uncategorized | Comment (0)Sang Kambing Vs Keledai
Suatu pagi yang cerah, Sang kambing berangkat kantor dengan setengah ogah-ogahan.. Tahu bahwa hari ini kantor akan diperiksa habis-habisan oleh sebentuk Keledai dari seberang lautan. Walau udah diajak kembaran pakai batik, sang Kambing memilih pakai baju biasa, bercorak sih, tapi nggak batik banget gitu. Bukannya sang Kambing nggak punya batik, punya yang lucu dan seksi abis malah.., tapi sang Kambing nggak suka aja bela-belain cantik demi Keledai aneh yang udah bikin suasana kantor jadi kacau balau selama berminggu-minggu ini.
Bayangkan saja, demi menyambut tuntutan si Keledai, kantor berdandan habis-habisan. Mulai dari yang wajar seperti CCTV, terus Fingerprint ID (yang mewajibkan seluruh ruang depan direnovasi), lalu ID card (yang ini sang Kambing lumayan suka, soalnya sempat jadi fotografer dadakan dan bisa main-mainin tripod barunya bos), belanja lemari baru, buku-buku baru, mindahin ini itu (termasuk mindahin ruang meeting!), sampai yang agak “aneh” seperti mendadak mengakuisisi warehouse, supir, dan truk, bahkan satpam yang jelas-jelas milik perusahaan berbeda..
Repot deh kayak mau mantu… Belum termasuk kwajiban untuk setting double password dan screensaver aneh yang wajib muncul tiap 2 menit kompie nggak disentuh, mewajibkan re-entering password yang terbukti sangat sangat merepotkan (sang Kambing nekat ngeganti jadi 20 menit, dan berencana menonaktifkan screensaver segera setelah Keledainya cabut)
Hari pertama dijalani dengan tambahan bersih-bersih, karena secara ajaib ternyata si Keledai merubah jadwal kunjungan. Alhasil Satpam dadakan yang sudah mejeng di depan kantor jadi tak berguna dan memilih pulang ke perusahaan aslinya dulu. Tinggalah sang Kambing ketawa-ketiwi dengan sobat Wereng dan Luwak (sobat Codot nggak sempat ketawa ketiwi, sibuk angkat-junjung barang yang seakan tak ada habisnya). Diakhiri dengan peringatan penting soal seragam hari kedua yang nggak boleh salah warna, harus super rapi lengkap dengan sepatu dan ID card tergantung sejak dari rumah.
Menanggapi ini, hari kedua Sang Kambing menambahkan syal warna-warni cerah melingkari leher. Dengan alasan mencegah radang tenggorokan tambah parah (yang sebetulnya memang sering terjadi), sang Kambing jadi tetap bisa tampil beda. Hehehe..
Dari lantai satu sampai tiga, semua sibuk latihan sandiwara sampai saat yang ditunggu tiba, Keledainya datang..
Dan pulang setelah sepuluh menit yang tak berarti di lantai satu…
Rupanya Jadwal pesawatnya diajukan..
Dasar Jack-A**!!
Dan berakhirlah hari ini dengan tawa berderai. Sebagian besar menertawakan kejadian lucu dimana inspeksi tak sedetil yang dibayangkan, sebagian kecil menertawakan diri sendiri karena ironisasi penjajahan modern. Kok ya mau-maunya ya kita dikerjai sedemikian rupa oleh mereka ? Bayangkan berapa banyak waktu, biaya, dan tenaga yang kita habiskan, hanya untuk sepuluh menit yang nggak berarti. Kalau boleh bilang rugi, bodoh, dan penakut, mestinya sang Kambing menjadi pintar dan memilih diam untuk kemudian berbagi dengan yang lebih bisa diajak berbagi. Pulang untuk tidur diatas bantal empuk yang sarungnya didesain persis dengan bendera negara si Keledai yang juga sudah pulang…
Hey Jack-A**, I slept over your beloved flag. Well I thought it’s OK as you have never respect these flags the way we respect ours.
Uncategorized | Comments (2)