Akar yang Menjadi Alasan

August 13th, 2006

Hei

sebenarnya..

aku pingin pergi jauh..

mulai dari awal..

sendirian

But it’s not possible

ada bakti yang tertunda; ada hutang yang tidak pernah bisa dibalas; ada hal-hal yang tak bisa tak dilakukan; ada akar yang lebih kuat dari apapun; ada rasa yang lebih murni dari cinta yang ditemukan; ada samudera menyejukkan di sini..

di samping ayah-bunda ku

aku tak mau jadi seperti mereka; yang berfikir kewajiban sudah terlunasi hanya dengan kiriman cek; kasih sayang bisa terwakili dengan nominal; dan hutang cinta bisa dibayar sebelum kematian datang..

aku tak bisa seperti mereka ; yang hidup dengan memandang kebutuhan sebagai deretan angka; dan masa bodoh dengan apa yang sebenarnya terjadi..

aku tak mau seperti mereka; yang dengan bangga berkata "aku sudah kirimkan sejumlah … ke rumah" , tanpa mau tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan, dikeluhkan, diinginkan, diperlukan, dirasakan oleh Ayah-Bunda nya.

Ayahku selalu ingin ; dipijatkan kaki kanannya yang sakit karena asam urat; dibuatkan teh hangat manis sore hari; pastry kacang yang dipotong 2 untuk dimakan bersama; dipegangkan ujung tangga saat perlu membetulkan atap rumah; pendengar untuk cerita-cerita masa lalunya; merasa tetap diperlukan anaknya untuk hal apapun, yang sebenarnya sudah bisa kita lakukan sendiri.

Bundaku selalu ingin; membuatkanku minuman begitu aku sampai rumah; membelikanku baju model terbaru yang dilihatnya di kios pasar :) ; sekedar bicara kabar di telepon; nonton tv bareng sampai larut malam; menyimpan setengah apapun yang dirasanya enak untukku; menemaniku mengerjakan apapun yang ku kerjakan; dan memperoleh pendengar untuk keluhan2 batinnya yang terdalam sebagai balasannya.

Mereka adalah akarku; mereka adalah alasanku..

You should understand them

As much as I do, They’re your Parents too..